Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Maret 2010
SIDANG PARIPURNA DPR TENTANG CENTURY, RICUH LAGI
Sidang paripurna DPR yang ditunggu-tunggu karena akan menjadi penentu bagaimana hasil akhir kerja Pansus Century selama 2 bulan yang dibiayai 2,5 milyar uang rakyat itu, ternyata...lagi-lagi mempertontonkan pertunjukkan yang jauh dari harapan sesuai yang diamanatkan rakyat yang membiayainya.
Kejadian demi kejadian yang terus berulang dan berulang sejak sidang-sidang pansus digelar itu menunjukkan apa yang mereka lakukan lebih mengarah ke kepentingan pribadi dan kelompoknya sehingga melahirkan prilaku "panik".
Seharusnya sebagai seorang pemimpin harus mampu dan selalu berusaha mengendalikan emosi terutama dalam beradu argmen dan pendapat. Kata orang bijak: Keagungan seorang pemimpin ditunjukkan setinggi apa pengendalian emosinya.
Semoga kasus ini dijadikan pengalaman yang berharga bagi siapa saja yang merasa dan mau menjadi pemimpin bangsa.
Label:
Akhlak,
Berita,
DPR,
Fenomena,
Kasus Bank Century,
Pansus,
Ricuh,
Serba serbi,
Sidang Paripurna
Sabtu, 30 Januari 2010
Semarak Demo Seratus Hari Pemerintahan SBY II
Sebagaimana dijanjikan, ribuan masa pendemo membanjiri ibu kota negara, Jakarta, bahkan juga di kota-kota seluruh Indonesia pada tanggal 28 Januari 2010 tepat 100 hari masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono ke-2.
Mereka mengkritik apa yang telah dilakukan pemerintah pada 100 hari pertama, dinilai belum sesuai dengan apa yang dijanjikan dalam 15 program seratus hari saat pelantikan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.
Namun, berbeda dengan apa yang disuarakan para pendemo...beda pula yang dikatakan pemerintah. Kerja kabinet telah berjalan dengan baik.
Lagi-lagi giliran kami rakyat biasa yang dibingungkan...mana yang benar. Masing-masing nampaknya ngotot dengan pendapat dan penilaiannya. Bahkan terkesan malah saling mengkritik.
Harapan kami, seabaiknya bagi pemerintah apapun dan bagaimanapun bentuknya kritikan dari masyarakat jangan dijawab dengan kritikan lagi, tetapi jawab saja dengan kinerja yang baik sesuai dengan harapan masyarakat.
Ketika ada yang mengatasnamakan masyarakat, siapapun dia, bagaimanapun keadaannya apabila menyuarakan keluhan, kritik, tanggapan atau apapun bentuknya, jangan suka dijawab dengan pertanyaan "masyarakat yang mana ?". Karena yang manapun ya tetap masyarakat bangsa Indonesia, rakyatnya pemerintah Indonesia.
Mereka mengkritik apa yang telah dilakukan pemerintah pada 100 hari pertama, dinilai belum sesuai dengan apa yang dijanjikan dalam 15 program seratus hari saat pelantikan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.
Namun, berbeda dengan apa yang disuarakan para pendemo...beda pula yang dikatakan pemerintah. Kerja kabinet telah berjalan dengan baik.
Lagi-lagi giliran kami rakyat biasa yang dibingungkan...mana yang benar. Masing-masing nampaknya ngotot dengan pendapat dan penilaiannya. Bahkan terkesan malah saling mengkritik.
Harapan kami, seabaiknya bagi pemerintah apapun dan bagaimanapun bentuknya kritikan dari masyarakat jangan dijawab dengan kritikan lagi, tetapi jawab saja dengan kinerja yang baik sesuai dengan harapan masyarakat.
Ketika ada yang mengatasnamakan masyarakat, siapapun dia, bagaimanapun keadaannya apabila menyuarakan keluhan, kritik, tanggapan atau apapun bentuknya, jangan suka dijawab dengan pertanyaan "masyarakat yang mana ?". Karena yang manapun ya tetap masyarakat bangsa Indonesia, rakyatnya pemerintah Indonesia.
Label:
Akhlak,
Anti Korupsi,
Berita,
Demo,
Janji,
Kabinet,
Kritik,
Pemeintah,
Serba serbi
Minggu, 10 Januari 2010
Pansus DPR: Rapat, Saling Umpat
Satu lagi, peristiwa memalukan dipertontonkan dua wakil rakyat ketika Rapat Pansus Hak Angket Bank Century hari Rabu (6/1/2010), saling lontar kata-kata yang tidak sepatutnya terjadi pada rapat lembaga terhormat.
Kalau almarhum Gus Dur pernah mengatakan "DPR kaya anak TK", bahkan anak TK-pun tidak boleh mengucapkan kata-kata itu.
Sayangnya, para petinggi partainya terkesan membiarkan, bahkan menganggapnya wajar-wajar saja. "Ada aksi, ada reaksi...." kurang lebih begitu pendapatnya.
Bagi yang bersangkutan, mungkin selesai ketika keduanya berdamai dan saling memaapkan. Tapi demi kehormatan lembaga DPR yang terhormat, tentunya harus ada sanksi tegas dari partainya maupun dari BK DPR kepada keduanya, agar kasus seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.
Mudah-mudahan....
Kalau almarhum Gus Dur pernah mengatakan "DPR kaya anak TK", bahkan anak TK-pun tidak boleh mengucapkan kata-kata itu.
Sayangnya, para petinggi partainya terkesan membiarkan, bahkan menganggapnya wajar-wajar saja. "Ada aksi, ada reaksi...." kurang lebih begitu pendapatnya.
Bagi yang bersangkutan, mungkin selesai ketika keduanya berdamai dan saling memaapkan. Tapi demi kehormatan lembaga DPR yang terhormat, tentunya harus ada sanksi tegas dari partainya maupun dari BK DPR kepada keduanya, agar kasus seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.
Mudah-mudahan....
Label:
Akhlak,
Anti Korupsi,
DPR,
Fenomena,
Pansus,
Serba serbi
Langganan:
Komentar (Atom)
Banyak kejadian baik yang dialami, disaksikan langsung atau lewat berita media masa yang kadang mengganggu pikiran karena aneh, lucu, mengerikan atau sekedar ingin tahu mengapa itu harus terjadi.
Melalui blog ini saya mengajak para pembaca untuk berbagi saran, pendapat, komentar, penjelasan ilmiah atau bentuk apa saja yang dapat memberikan jawaban, yang mungkin bermanfaat dan dibutuhkan orang lain.
